Wednesday, January 11, 2012

PEMIKIRAN AUGUSTE COMTE

Biografi August Comte

August comte memiliki nama panjang Isidore Marie Auguste Fran├žois Xavier Comte, lahir pada tanggal 19 januari 1798 di kota Montpeller di baagian selatan Prancis. Beliau adalah filsuf dan ilmuan sosial terkemuka yang sangat berjasa dalam perkembangan ilmu kemasyarakatan atau sosiologi.
Comte sebagai mahasiswa di ecole Politechnique Paris. Ecole Politechnique saat itu terkenal dengan kesetiaannya kepada idealis republikanisme dan filosofi proses. Pada tahun 1818, politeknik ttersebut ditutup untuk re-organisasi. Comte pun mmeninggalkan Ecole dan melanjutkan pendidikannya di sekolah kedokteran di Montpellier. Tak lama kemudian, ia melihat sebuah perbedaan yang mencolok antara agama katolik yang ia anut dengan pemikiran keluarga monarki yang berkuasa sehingga ia terpaksa meninggalkan Paris. Kemudian pada bulan Agustus 1817 dia menjadi murid sekaligus sekertaris dari Claude Henri de Rouvroy, Comte de Saint-Simon, yang kemudian membawa Comte masuk ke dalam lingkungan intelek.  Namun pada tahun 1824, Comte meninggalkan Saint-Simon karena lagi-lagi ia merasa ada ketidakcocokan dalam hubungannya.
Pada tahun 1842, ia mempublikasikan bukunya yang berjudul Le Cours de Philosophie Positivistic. Pemikiran brilian Comte mulai menjadi suatu aliran pemikiran yang baru dalam karya-karya filsafat yang tumbuh lebih dahulu. Dengan penuh kesadaran bahwa akal budi manusia terbatas, comte mencoba mengatasi dengan membentuk ilmu pengetahuan yang berasumsi dasar pada persepsi dan penyelidikan ilmiah. Tiga hal ini dapat menjadi ciri pengetahuan seperti apa yang sedang Comte bangun, yaitu : 1. Membenarkan dan menerima gejala empiris sebagai kenyataan, 2. Mengumpulkan dan mengklasifikasikan gejala itu menurut hukum yang menguasai mereka, dan 3. Memprediksikan fenomena-fenomena yang akan datang berdasarkan hukum-hukum  itu dan mengambil tindakan yang dirasa bermanfaat. Keyakinan Comte dalam pengembangan yang dinamakan positivisme semakin besar, positivisme sendiri adalah faham filsafat, yang cenderung untuk membatasi pengetahuan benar manusia kepada hal-hal yang dapat diperoleh dengan memakai metode ilmu pengetahuan. Disini comte mengungkapkan perkembangan kehidupan manusia dengan menciptakan sejarah baru, merubah pemikiran-pemikiran yang sudah membudaya, tumbuh dan berkembang pada masa sebelumnya. Comte mencoba dengan keahlian berfikirnya untuk mendekonstruksi pemikiran yang sifatnya abstrak (teologis) maupun pemikiran yang pada penjelasan-penjelasannya spekulatif (metafisika).

Comte dengan konsistensinya mensosialisasikan agama humanitas-nya dan hukum tiga tahap yang memaparkan perkembangan kebudayaan manusia hingga akhir hayatnya, Comte meninggal di Paris pada tanggal 5 September 1857.

B.     Lahirnya Positivisme
Menurut buku Realitas Sosial yang ditulis K. J Veeger halaman 17, positivisme adalah paham filsafat yang cenderung untuk membatasi pengetahuan benar manusia kepada hal-hal yang dapat diperoleh dengan memakai ilmu pengetahuan (science, sains). Positivisme merupakan ajaran bahwa hanya fakta atau hal yang dapat ditinjau dan diuji melandasi pengetahuan sah.
Positivisme lahir sebagai reaksi terhadap zaman pencerahan. Dalam buku Teori Sosiologi Karya George Ritzer dan Douglas J. Goodman disebutkan, pengaruh Pencerahan pada teori sosiologi lebih bersifat tidak langsung dan negatif ketimbang bersifat langsung dan positif.
Zaman pencerahan menyebabkan beberapa “penyakit” pada masyarakat. Oleh karena itu Comte menginginkan adanya perubahan atau reformasi sosial untuk memperbaiki “penyakit” yang diakibatkan oleh Revolusi Perancis dan Pencerahan itu. Comte hanya menginginkan evolusi alamiah di masyarakat.
Hingga akhirnya tercipta teori evolusi yang dikemukakan Comte atau yang biasa disebut hukum tiga tahap yaitu:
a.       Tahap teologis
Dimulai sebelum tahun 1300 dan menjadi ciri dunia. Tahap ini meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini dikendalikan oleh kekuatan supranatural yang dimiliki oleh para dewa, roh atau tuhan. Pemikiran ini menjadi dasar yang mutlak untuk menjelaskan segala fenomena yang terjadi di sekitar manusia, sehingga terkesan irasional. Dalam tahap teologis ini terdapat tiga kepercayaan yang dianut masyarakat. Yang pertama fetisysme dan dinamise, menganggap alam semesta ini mempunyai jiwa. Contohnya, bergemuruhnya guntur disebabkan raksasa yang sedang berperang dan lain-lain. Kemudian ada animisme yang mempercayai dunia sebagai kediaman roh-roh atau bangsa halus. Yang kedua politeisme, sedikit lebih maju dari pada kepercayaan sebelumnya. Politeisme mengelompokkan semua dan kejadian alam berdasarkan kesamaan-kesamaan diantara mereka. Sehingga politeisme menyederhanakan alam semesta yang beranekaragam. Contoh dari politeisme, dulu disetiap sawah di desa berbeda mempunyai dewa yang berbeda. Politeisme menganggap setiap sawah dimanapun tempatnya mempunyai dewa yang sama, orang jawa mengatakan dewa padi yaitu yaitu dewi sri. Yang terakhir, monoteisme yaitu kepercayaan yang menganggap hanya ada satu tuhan.
b.      Tahap metafisik
Pada tahap ini manusia mengalami pergeseran cara berpikir. Tahap teologis, semua fenomena yang terjadi disekitar manusia sebagai akibat dari kehendak roh, dewa atau tuhan. Namun pada tahap ini, muncul konsep-konsep abstrak atau kekuatan abstrak  selain tuhan seperti “alam”. Tahap ini terjadi antara tahun 1300 sampai 1800.
c.       Tahap positivisme
Pada tahap ini semua gejala alam atau fenomena yang terjadi dapat dijelaskan secara ilmiah berdasarkan peninjauan, pengujian dan dapat dibuktikan secara empiris. Lembaga agama yang dulunya mengatur segalanya pada tahap ini harus menyerahkan hegemoninya kepada lembaga-lembaga lainnya sehingga muncullah lembaga-lembaga lainnya. Selainnya itu muncul sekulerisme atau pemisahan dibidang agama dengan bidang yang lain. Tahap ini menjadikan ilmu pengetahuan berkembang dan segala sesuatu menjadi lebih rasional, sehingga tercipta dunia yang lebih baik karena orang cenderung berhenti melakukan pencarian sebab mutlak (tuhan atau alam) dan lebih berkonsentrasi pada penelitian terhadap dunia sosial dan fisik dalam upayanya menemukan hukum yang mengaturnya (Teori Sosiologi, George Ritzer & Douglas J. Goodman Halaman 17).

Dinamika Proses Evolusi Akal-Budi
Tidak semua perkembangan pikiran berlangsung cepat dan lancar. Proses perkembangan akal-budi ada yang berlangsung cepat ada pula yang lambat. Perkembangan berlangsung cepat apabila dibidang itu cenderung lebih sederhana dan bersifat universal. Contohnya saja matematika yang merupakan pengetahuan paling sederhana dan bersifat universal. Oleh karena itu pengetahuan itu berkembang pesat. Berbeda halnya dengan bidang ilmu pengetahuan lain yang rumit dan bersifat fenomin. Contohnya pengetahuan yang mengkaji mengenai kematian, kelahiran, cuaca, bencana dan sebagainya, yang sulit dijelaskan pada zaman teologi dan metafisik karena cara berpikir masyarakat yang masih berpusat pada tuhan ata dewa. Pengetahuan ini membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa diakui di masyarakat. Dalam buku realitas sosial dijelaskan bahwa inti ajaran Comte yaitu sejarah pokoknya adalah proses perkembangan bertahap dari cara manusia berfikir dan proses ini bersifat mutlak, universal, dan tak terelakkan. Teori evolusi Comte tidak menganut determinisme yang radikal walaupun ia berpendapat bahwa proses evolusi akal budi serta pemantulannya oleh masyarakat berjalan terus dan pasti mencapai tujuannya, namun menurut dia manusia masih juga memainkan peranan bebas. Oleh peranan manusia dapat mempercepat atau memperlambat datangnya zaman baru. Selain itu, manusia dapat mengadakkan variasi tiga faktor yang disebut berpengaruh atas adanya variasi yaitu suku bangsa, iklim dan strategi. Namun demikian semakin manusia menyadari bahwa hukum evolusi bersifat pasti, dan mendukungnya , semakin cepat masyarakat baru akan terwujud.
Masyarakat Positivis adalah Masyarakat Industri
Masyarakat bukanlah benda mati, masyarakat akan selalu berkembang dan bergerak menjadi semakin maju. Masyarakat yang tidak puas atas zaman teologis dan metafisik akan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang segala fenomena yang terjadi disekitar mereka. Dengan melakukan percobaan, serta menguji fenomena maka akan muncul jawaban yang ilmiah dan menggantikan jawaban mutlak seperti “kuasa tuhan” atau “nasib”.  Seperti yang dikatakan Comte, zaman positivisme akan menggantikan teologis dan metafisik serta menjadikan dunia ini menjadi lebih baik karena mendasarkan segala sesuatu dengan hal-hal yang ilmiah dan rasional.
Zaman berburu dan meramu, maupun sistem produksi tradisional berganti menjadi zaman modern dengan ditemukannya mesin-mesin yang mempermudahkan pekerjaan manusia. Dari positivisme lahirlah masyarakat industri karena pengetahuan semakin berkembang. Berubahnya masyarakat menjadi masyarakat industri mempengaruhi antagonisme kelas dan kemiskinan kaum buruh karena sistem ekonomi yang berkembang yaitu sistem ekonomi liberal. Comte membenarkan hal milik perseorangan atas sarana-sarana produksi, juga hak untuk mengumpulkan kekayaan besar. Menurut dia, antagonisme kelas dan kemiskinan kaum buruh hanyalah efek samping dari sistem ekonomi liberal. Namun, bukan berarti Comte menyetujui persaingan liar yang tak terkendali , dan kebebasan mutlak di bidang ekonomi. Karl Marx tidak setuju dengan sistem ekonomi liberal. Menurut dia, terjadinya antagonisme kelas dan kemiskinan merupakan hal yang kronis dan harus segera diperbaiki.
Comte berpendapat tentang etika sosial yang merupakan sarana terbaik utuk mengatasi masalah ini. Mengembangkan kesadaran moral merupakan hal yang penting untuk menciptakan kolektivisme. Apabila kesadaran kolektivisme sudah dimiliki oleh masyarakat, maka kestabilan ekonomi akan terjadi dan mengurangi antagonisme kelas serta kemiskinan.
Statika dan Dinamika Sosial
Statika sosial yang dimaksud yaitu semua unsur struktural yang melandasi dan menunjang orde, tertib, dan kestabilan masyarakat. Antara lain disebut: sistem perundangan, struktur organisasi, dan nilai-nilai seperti keyakinan , kaidah, dan kewajiban yang semuanya memberi bentuk yang kongkret dan mantap pada kehidupan bersama. Statika sosial itu disepakati oleh anggota yang disebut volonte general (kemauan umum). Mereka mengungkapkan hasrat kodrati manusia akan persatuan , perdamaian, dan kestabilan. Tanpa unsur-unsur struktural ini kehidupan bersama tidak dapat berjalan.
Dinamika sosial yang dimaksud yaitu semua proses pergolakan yang menuju perubahan sosial. Dinamika sosial merupakan daya gerak sejarah yang pada setiap tahap evolusi mendorong kearah tercapainya keseimbangann baru yang setara dengan kondisi dan keadaan zaman. Pada abad ke 18 dinamika sosial yang paling menonjol dalam perjuangan dan usaha untuk mengganti gagasan-gagasan agama yang lama dengan konsep-konsep positif dan ilmiah yang baru.
Pada tahap teologi masyarakat dihayati sebagai kehendak dewa. Pemerintahnya berstruktur feodal atau parternalistis. Ekonominya bercorak “militaristis”artinya bahwa orang tidak memproduksi barang kebutuhan mereka tetapi memetik atau meramu hasil bumi. Tahap metafisika mengakibatkan kemunduran agama, terlihat dari adanya revolusi dan perombakan atas kehidupan bersama yang tradisional. Tahap positifisme membangun kembali suatu orde yang kokoh-kuat dimana peranan agama dan filsafat diambil alih oleh ilmu pengetahuan positif yang tangguh dan universal.
Comte telah menyaksikan krisis sosial yang hebat, disebabkan oleh benturan antara masyarakat tradisi dengan masyarakat industri baru. Kendati demikian ia berkeyakinan bahwa masyarakat akan menjadi tertib kembali kalau suatu kesepakatan tentang nilai-nilai baru akan tercapai.
Comte sebagai pembaru agama
Perang yang terus-menerus dan individualism yang berlarut di zaman post-revolusi di negeri Perancis mencemaskan Comte. Semakin ia tua, semakin ia menyadari bahwa tingkah laku manusia tidak berpangkal pada akal-budi, melainkan berasal dari hatinya. Dengan “hati” dimaksudkan “perasaan dan kemauan”. Kedua unsur ini memainkan peranan yang menentukan bagi perilaku dan sikap seseorang. Menurut hematnya, pendidikan elektualistis terus-menerus dan bertujuan menambah pengetahuan saja, tanpa adanya cintakasih dan motivasi, menghasilkan intelektualisme kering dan rasionalisme mandul. Memang benar bahwa akal –budi bertindak sebagai penuntun dan juru penerangan dalam perjalanan hidup. Tetapi, betapa penting dan perlu juga fungsi ini, akal-budi manusia yang tidak menduduki tempat tertinggi. Hati adalah daya manusia yang paling luhur. Dengan mengingat bahwa wanita mempunyai perasaan yang paling halus, maka Comte mengagumi dan mengagungkan mereka.
Comte sangat dikesankan oleh abad pertengahan. Bukan tahap evolusi akal-budi di zaman itu mengesankan dia, tetapi pengintegrasian yang ditonjolkan antara nilai-nilai rohani dengan nilai-nilai duniawi. Misalnya, lembaga keluarga tidak semata-mata dianggap sebagai sumber sekuler saja, tetapi dianggap suci dan sacral juga. Terdorong oleh keyakinannya bahwa hati manusia merupakan daya yang terutama, ia melucuti angkatan bersenjata dari cita sakralnya, dan sebagai gantinya ia memberi status sacral kepada kaum wanita. Ia meningkatkan status sosial mereka dan meluhurkan perana merekan dalam rumah- tangga. Ia menentang perceraian, ibu Yesus dihormatinya. Melalui hormat kepada Bunda Maria ia menyatakan hormatnya kepada semua ibu. Pada saat menjelang wafatnya para hadirin mendengar dia berbisik “Ibu dari AnakMu”.

Comte menarik kesimpulan, bahwa pengintegrasian kembali masyarakat atas dasar prinsip-prinsip positivisme hanya mungkin dilaksanakan melalui agama gaya baru, yaitu agama sekuler dengan lambangnya, upacaranya, hari-hari raya, dan orang “Kudus”-nya. Hanya agama yang akan mampu menyemangati baik akal-budi maupun perasaan dan kemauan. Oleh karena itulah, Comte dalam masa tuanya mendirikan agama baru itu. Yang disembah sebagai Yang Mahatinggi bukan Allah, melainkan humanitas atau manusia. kita harus mencintai humanitas. Dengan humanitas tidak dimaksudkan semua orang, termasuk yang tidak becus dan jahat. Melainkan orang-orang terbaik yang pernah dihasilkan sejarah dan masih hidup melalui karya dan pengaruh mereka. Kita harus mencintai kemanusiaan mereka yang abadi. Menurut Comte cinta inilah yang akan memulihkan keseimbangan dan pengintegrasian baik dalam diri individu maupun dalam masyarakat. Cinta ini akan melahirkan pemerintahan sipil, menjinakkan, dan mengendalikan tiap-tiap kekuasaan dunawi. Kata Marvin, “masyarakat yang sedemikian rupa diatur, hingga prinsip-prinsip sosial memainkan peranan paling penting, merupakan suatu sosiokrasi. Itulah sumbangan istimewa Comte kepada dunia”. (Marvin, F.S., 1936: 195-196).

0 komentar:

Post a Comment